Hari pertama. Senin, 5 Oktober 2020
Coaching
dibuka secara serentak oleh peserta pembaTIK level 4 dari beberapa provinsi salah
satunya Provinsi Jawa Tengah serta dimoderatori oleh Ibu Karima Putri
(Pusdatin). Kemudian dilanjutkan laporan dari Pak Arief D. (Pusdatin). Beliau
menyampaikan bahwa tujuan dari program pembaTIK ini adalah untuk melakukan
pemetaan kemampuan TIK para guru, juga untuk mencari Duta Rumah Belajar.
Sebelumnya, telah dilaksanakan kuliah umum selama 5 hari pada tanggal 14 – 18
September 2020. Beliau juga menyampaikan tentang tugas-tugas yang harus
dituntaskan oleh para peserta yaitu tugas pra pembelajaran dan tugas akhir
(vlog, blog dan sosialisasi).
Pembukaan coaching dilakukan oleh plt Kepala Pusdatin, Pak Hasan Chabibie.
Beliau berharap guru-guru akan menjadi cahaya untuk pendidikan. Kemudian
dilanjutkan oleh Pak Subijanto dari BPMTPK tentang layanan fasilitas dan
pemanfaatan TIK untuk pendidikan. Contoh layanan fasilitas yang disediakan
untuk pembelajaran jarak jauh adalah BSE, rumah belajar, TV edukasi, Radio
edukasi, Suara edukasi, FVE, m-edukasi, dsb.
Materi selanjutnya dilakukan
per-provinsi, dimoderatori oleh Pak Indro Wiryono (Pusdatin).
Kemudian materi selanjutnya adalah
Implementasi Pemanfaatan TIK oleh Bapak Kiaamina (Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah). Beliau menjelaskan bahwa akibat dari COVID-19
berakibat pada diterapkannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Apa yang harus
disiapkan oleh sekolah? Infrastruktur, kesiapan pendidik, kesiapan peserta
didik dan sumber daya lainnya. Pasti ada banyak hambatan misalnya mulai dari
kemampuan TIK guru, kemampuan dalam pembelajaran daring serta wilayah geografis
yang berbeda. Salah satu scenario pembelajaran yang sedang dipersiapkan oleh
dinas adalah Uji Coba KBM tatap muka untuk persiapan pembelajaran di masa new normal. Fungsi dan tugas guru adalah
membentuk karakter bangsa. Kita sekarang sedang berada pada era industry 4.0 di
mana pembelajaran tanpa batas ruang dan waktu, sehingga kita sebagai guru harus
bisa beradaptasi dengan perkembangan
teknologi agar bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak didik kita.
Pak Fahkhrudin Sujarwo (DRB 2018)
memberikan wejangan juga bahwa seorang guru harus bisa membentuk personal branding-nya. Apa yang bisa
kita tonjolkan, apa yang bisa membuat kita tampak unik di mata orang lain
sehingga kita bisa berbeda dengan guru-guru lain. Dalam bermedia sosial,
sebagai guru, apalagi sebagai sahabat rumah belajar, haruslah kita bisa menjaga
pola komunikasi kita. Apa yang kita tulis, apa yang kita share harus
benar-benar bermanfaat, bermakna dan menunjukkan brand kita. Ke depannya pasti akan ada banyak tantangan, sehingga
guru pun perlu belajar troubleshooting
untuk bisa memecahkan masalah. Trial
and error kadang memang perlu. DRB
mungkin tidak tahu semuanya, tapi google dan youtube bisa menjadi solusi.
Segmen selanjutnya adalah pemaparan
dari Pak Harmanto. Banyak sekali yang beliau sampaikan khususnya terkait dengan
penjaminan mutu. Beliau mengatakan bahwa dalam setiap sekolah pasti ada guru
yang handal, tidak semua guru itu handal. Dalam PJJ ini, proses pembelajaran
yang paling mudah dilakukan adalah dengan pembelajaran daring. Namun sekolah
yang melaksanakan daring masih miskin materi. Guru harus bisa membuat siswa
tertarik dengan mapel yang diampunya dengan cara menguasai materi dan
konsisten. Guru adalah dalang yang paham akan lakon yang akan dimainkan
(maksudnya adalah bagaimana pembelajaran akan disampaikan). Dalam memberikan
layanan pendidikan pada siswa, guru bisa menggunakan ‘Filosofi Rumah Makan’.
Menurut Pak Harmanto, mengajar merupakan a
kind of art. Mengajar adalah sebuah seni. Seni dalam menyampaikan materi
dengan gaya yang mungkin setiap guru akan berbeda dengan guru lainnya. Guru
harus mengenali karakter siswa untuk mengahadapi karakter siswa yang berbeda.
Bagaimana peran rumah belajar dalam
penjaminan mutu? Proses dalam penjaminan mutu suatu sekolah adalah dimulai
dengan audit awal, verifikasi data, pendampingan, audit akhir, akreditasi dan
diharapkan endingnya adalah peningkatan mutu. Konten dari berbagai rumah
belajar bisa sekolah manfaatkan dalam usaha peningkatan kualitas pendidikannya.
Akhirnya sekolah, dinas, masyarakat
membutunkan kontribusi kita, walau sekecil apapun. Apa yang bisa kita berikan,
bagikan sehingga akan bermanfaat untuk orang banyak.











0 Komentar
Mohon memberikan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan.